Uncategorized

Analisa INDEF soal penyebab Rupiah kembali tersungkur hingga Rp 14.310 per USD

fokusmedan : Kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat nampaknya belum beranjak dari angka Rp 14.000 per USD, meskipun Bank Indonesia terus melakukan langkah intervensi. Pada perdagangan hari ini, Kamis (28/6), Rupiah sempat tersungkur di level Rp 14.310 per USD dikutip Reuters. Angka ini terendah sejak awal tahun.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan pelemahan Rupiah disebabkan oleh tekanan global setelah ancaman perang dagang AS-China terus berlanjut. Selain itu, rencana kenaikan suku bunga acuan The Fed juga turut menghempas nilai tukar Rupiah.

“Rupiah melemah karena besarnya tekanan global setelah perang dagang AS China berlanjut, ekspektasi kenaikan Fed rate 4 kali tahun ini dan kenaikan harga minyak karena Trump serukan boikot impor minyak dari Iran. USD index langsung loncat ke 95. Artinya dolar AS menguat terhadap mata uang dominan lainnya,” ujar Bhima di Jakarta,  Kamis (28/6).

Kondisi ini pun diperparah oleh data-data ekonomi dalam negeri yang tidak menunjukkan perbaikan dari bulan-bulan sebelumnya. Salah satunya defisit neraca perdagangan pada Mei 2018 sebesar USD 1,52 miliar.

“Sayangnya dari dalam negeri data-data ekonomi dibawah ekspektasi. Misalnya neraca perdagangan Mei kembali defisit di USD 1,52 miliar, defisit transaksi berjalan melebar dan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2018 beberapa lembaga dikoreksi turun sulit tembus 5,4 persen,” jelasnya.

Hal ini kemudian membuat pelaku pasar melakukan aksi jual di bursa saham dan pasar surat utang. Untuk itu, dikutip dari merdeka.com, dia merekomendasikan kenaikan kembali suku acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin untuk menahan dana keluar.

“Itu yang membuat pelaku pasar melakukan net sales atau aksi jual di bursa saham dan pasar surat utang. Jadi efek kenaikan bunga acuan besok pun sangat kecil dampaknya dan lebih temporer kecuali ada surprise naiknya 50 bps mungkin dana asing akan tertahan,” jelas Bhima.(yaya)