Ming. Des 15th, 2019

Bayi Asal Madina Lahir dengan Kondisi Otak di Luar Tempurung Kepala

fokusmedan: Seorang bayi perempuan lahir dengan otak di luar tempurung kepala di Kecamatan Lingga Bayu, Mandailing Natal (Madina), Sumut. Dalam kurun dua tahun, enam bayi lahir dengan kelainan di daerah yang marak dengan aktivitas pertambangan itu.

Berdasarkan informasi dihimpun, bayi dengan otak di luar tempurung kepala itu lahir di sekitar Desa Aek Garingging, Kecamatan Lingga Bayu, Senin (18/11) kemarin. Kelahirannya dibantu petugas kesehatan di fasilitas bidan mandiri setempat.

Bayi lahir dengan berat badan 3.200 gram dan panjang 50 cm. Hanya otaknya berada di luar kepala.

Orang tua bayi yakni pasangan pasangan Soki Btr (43) dan Desmawita (35) yang merupakan warga setempat. Dikutip dari merdeka.com, mereka berprofesi sebagai pelukis dan tukang tambal ban.

“Bayi malamg itu sudah dirujuk ke RSUD Panyabungan dan ditangani dokter spesialis anak, dan dokter bedah, dan direncanakan kembali dirujuk ke salah satu rumah sakit di Padang,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Madina dr Nondang Eflita, Selasa (19/11).

Kelahiran bayi dengan kelainan ini memunculkan kekhawatiran. Penyebabnya, sudah enam bayi dengan kelainan lahir dengan kelainan di Madina, dalam 2 tahun terakhir. Selain otak di luar kepala, cacat bawaan yang muncul di daerah ini yakni usus di luar gastroschicis dan omphalocele, bayi bermata satu atau cyclopia, juga anensefali.

Baru-baru ini bayi lahir dengan usus di luar (gastroschisis) juga lahir di sana. Bayi itu sudah dirujuk ke rumah sakit di Padang, Sumatera Barat.

Muncul dugaan bahwa kelainan pada bayi itu berkait dengan pencemaran. Kawasan tempat tinggal mereka memang berada sekitar area pertambangan emas. Banyak kebun dan sawah yang dijadikan pertambangan emas. Proses pemisahan biji emas itu menggunakan merkuri, kimia berbahaya bagi kesehatan.

Orang tua tiga di antara enam ibu bayi-bayi malang itu memang bekerja langsung di pertambangan. Sementara pekerjaan orang tua bayi dengan otak di luar kepala itu tidak berkaitan langsung dengan aktivitas pertambangan.

“Namun kalau terkait air minum yang dikonsumi terkontaminasi dengan air pertambangan, saya belum tahu pasti,” ucap Nandang.(yaya)