EKONOMI & BISNIS

BI beberkan alasan Rupiah bakal sulit menguat

fokusmedan : Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) mulai menunjukkan penguatan setelah sebelumnya bertahan di level Rp 14.600-an per USD. Pagi tadi, Rupiah dibuka menguat tipis ke level Rp 14,583 per USD dibanding penutupan kemarin di Rp 14.593 per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah sempat menguat usai pembukaan di level Rp 14.578 per USD. Namun kembali melemah ke level Rp 14.589, dan saat ini Rupiah berada di level Rp 14.588 per USD.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Nanang Hendarsyah mengaku sulit membalikkan tren Rupiah yang melemah terhadap Dolar Amerika Serikat. Sebab, Indonesia masih mengalami defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD).

Selain itu, secara global saat ini Dolar tengah menguat di hampir semua nilai tukar mata uang banyak negara di dunia.

“Makanya gini, kami melihatnya tidak semua negara bisa membalik Dolar. Semua melemah,” kata Nanang di Gedung BI, Senin (20/8).

Dia mengungkapkan, saat ini Rupiah sudah melemah 7 persen terhadap Dolar. Mata uang negara lain pun mengalami hal yang sama dengan besaran pelemahan yang berbeda-beda. “Untuk rupiah misalnya sudah melemah 7 persen, India 9 persen, dan ada negara lain yang sampai 20 persen,” ujarnya.

Kendati demikian, dia menegaskan BI akan selalu melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Dikutip dari merdeka.com, intervensi juga dilakukan untuk menghindari pelemahan Rupiah merosot tajam. Sebab, jika Rupiah merosot secara tajam dipastikan akan membuat panik semua pihak.

“Kalaupun melemah, melemahnya secara gradual. Jangan melonjak tajam dan orang panik. Kami harapkan gradual saja (pelemahannya) yang penting cadangan devisa aman.”(yaya)