Ming. Agu 18th, 2019

Ekonomi Dunia Diprediksi Melambat di Kuartal I-2019

fokusmedan : Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan mengatakan, selama kuartal pertama 2019, pihaknya melihat pertumbuhan ekonomi global melambat, terutama di negara-negara maju. Hal ini seperti seperti yang sudah diprediksikan sebelumnya.

“Jadi Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dan Bank Sentral Eropa sama-sama secara simultan, menghentikan pengetatan moneternya,” ungkap Katarina, Sabtu (13/4).

Bank Sentral baik Amerika Serikat dan Eropa juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi di tahun ini, untuk kawasan masing-masing. The Fed menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dari 2,3 persen menjadi 2,1 persen. Sedangkan, Bank Sentral Eropa menurunkan prediksi pertumbuhan ekonominya, dari 1,7 persen menjadi 1,1 persen.

“Walaupun secara umum, The Fed masih melihat ekonomi AS masih kuat. Terlihat dari tingkat pengangguran rendah, upah meningkat, dan keyakinan konsumen juga kuat,” kata dia.

Dikutip dari merdeka.com, dia menyampaikan, di tengah pelambatan pertumbuhan ekonomi tersebut, terlihat ada yield inversion atau inversi imbal hasil. “Jadi kita melihat di AS, obligasi tenor pendek, seperti 3 bulan, 2 tahun, 3 tahun, yield-nya naik tinggi. Bahkan satu saat lebih tinggi dari tenor 10 tahun,” jelas dia.

Seharusnya dalam kondisi normal, yield tenor panjang lebih tinggi dari yield tenor pendek. Jadi terjadi inversi. Ini sempat membuat pelaku pasar bingung. Mereka mengindikasikan suatu sinyal, resesi akan terjadi. “Kami melihat hal ini (yield inversion) menandakan, keyakinan pasar finansial terhadap ekonomi jangka pendek itu rendah,” imbuhnya.

Meskipun demikian, menurut dia, masih terlalu dini untuk menyatakan resesi pasti terjadi. Yield inversion ini, lanjut Katarina, bukan terjadi pertama kali di AS. Sudah terjadi beberapa kali, di tahun 1978, 1989, 1998, dan 2006.

“Kalau kita mencermati, apa yang terjadi di masa-masa tersebut, sejak inversi imbal hasil terjadi, indeks S&P 500 masih naik. Bahkan secara rata-rata ada kenaikan 19 persen dalam periode 12 bulan dari pada waktu inversi itu terjadi,” tandasnya.(yaya)