NASIONAL

Kapolda Sumut: Saya menjalankan amanah sesuai UU

fokusmedan : Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto tidak menanggapi serius terkait perkataan Muhammad Syafi’i, anggota Komisi III DPR RI yang merekomendasikan dirinya untuk dicopot dari jabatannya.

Orang nomor satu di Polda Sumut ini mengaku semua tugas yang diembannya semata menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya, tetap mengacu pada UU No 2/202 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Agus mengaku tidak rela jika kerukunan yang selama ini sudah terjalin sangat erat di Sumatera Utara, rusak dan tercabik karena kepentingan politik perorangan atau kelompok tertentu.

“Kepentingan satu kelompok, apalagi perorangan, tidak boleh mengalahkan kepentingan masyarakat banyak dan negara,” tegasnya.

Ia melanjutkan, sebagai Kapolda Sumatera Utara, dirinya paing bertanggungjawab untuk menetralisir paham kebencian dan arogansi merasa paling benar yang sudah meracuni sebagian masyarakat Sumatera Utara karena kepentingan tertentu.

Negara menurut Agus harus hadir dan tidak boleh abai karena ini ancaman keutuhan berbangsa dan bernegara, bahkan ancaman bagi agama.
Agus Andrianto menyebutkan, semua kegiatan yang dilakukannya di Sumatera Utara, termasuk sepanjang masa Pemilu serentak Pilpres dan Pilleg di tahun 2019 ini, merupakan kegiatan yang netral dan tidak berpihak pada paslon manapun, partai apapun dan caleg manapun.

Jika ada yang merasa terusik karena upaya untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara yang diamankah Undang Undang kepadanya, itu tidak dipersoalkannya karena menurut Agus, sejak ia bertugas di Polri, ia sudah menyerahkan semua pada ketentuan Allah SWT.

“Alhamdulillah, saya percaya semua ketentuan yg maha kuasa, dihadapan Allah SWT,. Apalah manusia seperti saya ini, hanya debu dimuka bumi. Qodrat dan Irodhat tiap kita sudah ditentukan, jadi tinggal saya jalani saja,” kata Agus saat dikonfirmasi fokusmedan.com terkait perkataan Muhammad Syafii.

Ia mengatakan, keamanan dan ketertiban jauh lebih penting daripada retorika politik yg memprovokasi, tebar kebencian, fitnah yang bisa memecah belah, merasa benar sendiri, mengekspolitasi agama, dampaknya bisa merusak persatuan dan kesatuan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Jangan lupa belajar menjadi manusia dulu sebelum belajar Agama, supaya kita tidak lupa bahwa kita ini manusia bukan Allah, sehingga berhak menghakimi siapa saja sesuai selera dan kepentingan kita,” tandasnya.

Sebelumnya, Muhammad Syafi’i atau Raden Muhammad Syafi’i atau yang akrab dipanggil Romo, bersama sekelompok masyarakat, sekitar pukul 14.00 WIB, berunjuk rasa ke depan Kantor Walikota Medan, di Jalan Raden Saleh Medan, Sumatera Utara. Romo berorasi di hadapan massa dan mengancam Kapolda Sumut untuk membuat rekomendasi ke Komisi III DPR RI.(riz)