Rab. Okt 16th, 2019

Perkembangan Ekosistem Esports di Indonesia Tak Sementereng Pixel Game

fokusmedan : Perkembangan industri game atau biasa disebut olahraga elektronik atau eSports di Indonesia menjadi perhatian Pemerintah. Pemerintah memandang eSports sebagai sektor industri baru dalam era digital.

Esports mulai berkembang signifikan ketika warung internet (warnet) mulai menjamur. Dari game PC dan konsol, kemudian merambah ranah mobile dengan perkembangan pemain serta fans yang jauh lebih pesat.

Seiring dengan kemajuan teknologi, game yang tadinya hanya dimainkan secara personal berkembang menjadi kompetisi. Saking banyaknya peminat eSports, Asian Games resmi dijadikan salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan sejak tahun 2018.

Bermain game yang dahulu dipandang sebagai kegiatan anak-anak, kini bertransformasi menjadi bisnis bernilai jual tinggi. Bahkan mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Berdasarkan statistik, menurut Andi Suryanto, CEO Lyto Game, jumlah pemain game di Indonesia sekitar 50 hingga 60 juta jiwa sampai tahun 2019.

“Banyaknya orang yang memiliki kesamaan hobi dalam game akan membentuk komunitas. Tentunya dengan komunitas yang banyak, mereka yang ingin lebih profesional sebagai pemain esports akan semakin banyak. Namun, saat ini belum banyak yang terjun sebagai professional player,” ujar Andi di Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Industri eSports mampu memikat pihak sponsor sebagai ladang promosi dan investasi. Mereka berlomba-lomba menggelar turnamen esports dengan menggaet game publisher, penyelenggara, ‘penggila’ eSports dan tentunya pemain.

“Esports bukan lagi sekadar hobi, tetapi sudah menjadi industri profesional yang harus dikelola secara profesional pula,” ujar Giring Ganesha, Bos IESPL (Indonesia ESports Premiere League).

Indonesia punya tim esports kaliber internasional seperti Evos Esports, RRQ atau Rex Regum Qeon, BOOM ID, Bigetron Esports, Aerowolf, PG. Barracx dan ONIC Esports.

Berdasarkan Newzoo, dikutip dari merdeka.com, Indonesia merupakan salah satu pasar video game terbesar Asia Pasifik dengan angka USD 941 juta atau sekitar Rp 13 triliun.

Masalah Pemain Esports

Ternyata para pemain esports tersebut belum benar-benar dapat menikmati ‘profesi’ itu sebagai sebuah industri matang. Banyak hal yang harus dihadapi mereka, mulai dari tak dibayar, menunggu hadiah yang berlarut-larut hingga berhadapan dengan hukum.

Salah satu penyebabnya, tidak adanya regulasi atau peraturan maksimal seperti jangka waktu pemberian hadiah.

“Ketika mengalami masalah tersebut, kami bingung mau mengadu ke mana, untuk menghadapi masalah hukum, misalnya. Meski akhirnya bisa selesai setelah dibantu Kominfo dan KONI,” ujar Giring.

Menurut Giring, esports sebelumnya tidak ada haluan dan pakem padahal industrinya berjalan begitu kencang dengan cahayanya begitu terang

“Esports jangan sampai menjadi industri yang mengalami efek bubbles atau gelembung ekonomi,” ujar Giring.

Sementara itu menurut Jonathan Liandi atau yang punya nama in-game Emperor mengungkapkan, dirinya menggarisbawahi pandangan banyak orang yang menilai esports ini permainan anak kecil dan menghabiskan waktu.

“Itu yang saya rasakan, kemungkinan besar karena zaman yang berbeda,” jelas Jo, panggilan akrab Jonathan.(yaya)