Politisi PDIP pastikan kinerja Pansus KPK tak terpengaruh hasil survei

fokusmedan : Hasil survei Lembaga Politik Indonesia menunjukkan elektabilitas PDIP dan Golkar menurun menjelang Pemilu 2019. Elektabilitas dua partai politik peraih suara terbesar pada Pemilu 2014 itu menurun disebabkan dengan situasi politik belakangan, salah satunya Pansus angket KPK.

Politisi PDIP sekaligus anggota Komisi III DPR, Arteria Dahlan mengatakan, hasil survei tersebut bakal dijadikan koreksi PDIP. Namun dia memastikan sikap politik PDIP terhadap Pansus KPK tak terpengaruh hasil survei tersebut.

“Kita menghormati survei tetapi tidak terpengaruh. Itu enggak ada kaitannya. PDIP konsisten di jalur kerakyatan. Jadi kita tidak bergerak berdasarkan survei tetapi berdasarkan keyakinan dan kebenaran,” kata Arteria saat dihubungi merdeka.com, Kamis (12/10).

Menurut Arteria, keberadaan PDIP yang menyokong Pansus bukan berarti membonsai KPK. Dia berharap sikap politik PDIP dalam Pansus justru menjadi nilai lebih masyarakat agar pemberantasan korupsi ke depan lebih baik.

“PDIP berdasarkan keyakinan dan kebenaran. Semoga pada waktunya rakyat tercerahkan dan bisa menerima sikap politik PDIP terkait Pansus KPK,” kata Arteria.

Arteria mengatakan, saat ini Pansus Angket DPR terus bergerak dengan melakukan pendalaman temuan terkait kinerja KPK. Hasil pendalaman itu nantinya bakal disampaikan ke publik.

“Setiap hari bekerja enggak ada habisnya. Bekerja dalam keheningan. Kita bergerak dalam keheningan. Melakukan pendalaman terkait penemuan-penemuan kemudian melakukan investigasi lebih dalam terkait objek penyelidikan baik yang sudah maupun belum dilakukan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Survei Indikator menunjukkan PDIP, Golkar dan Gerindra masih memuncaki hasil pemilihan. PDIP memimpin jauh dengan angka 23,6 persen, di bawahnya ada Golkar dan Gerindra masing-masing 12 persen dan 10,3 persen. Serta Demokrat mengikuti di posisi empat dengan perolehan 8 persen.

Suara PDIP dan Golkar mengalami penurunan dibandingkan survei tahun lalu. Terlebih partai berlambang pohon beringin itu mengalami penurunan cukup tajam. Hal itu disebabkan dengan situasi politik belakangan, salah satunya Pansus angket KPK.

“Dua partai ini, partai utama ini turun, dan untuk Golkar turunnya lebih tajam dari 16,1 ke 12 persen,” ujar Peneliti Indikator Burhanuddin Muhtadi di kantornya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (11/10).

Sementara, Gerindra dan Demokrat yang tidak mendukung angket, mengalami kenaikan.

“Kelihatan sekali, Demokrat dan Gerindra naik, kebetulan mereka nggak masuk di Pansus, meskipun sikap Gerindra inkonsisten ya, tapi setidaknya mereka relatif secara publik menyatakan dukungannya kepada KPK,” jelas Burhanuddin.

Hanura dan NasDem sebagai partai pendukung memperoleh masing-masing 0,9 persen dan 2 persen. Sementara PKB dan PPP mendapat 5,5 dan 4,6 persen. Sedangkan, PKS dan PAN yang bertolak dengan pemerintah mendapat suara 3,3 dan 1,9 persen.

Partai yang sebelumnya tidak masuk pemilu 2014, juga mendapat suara. Perindo memperoleh 2,5 persen. PBB dan PSI berdempetan dengan perolehan 0,5 dan 0,4 persen. Hanya partai PKPI saja yang tidak mendapatkan polling.

Ada cukup banyak responden tidak memilih, 24,3 persen dari 1.220 orang menjawab tidak tahu/tidak jawab.

Populasi survei dipilih warga yang telah berumur 17 tahun dan punya hak pilih. 1.220 responden dipilih secara acak (multistage random sampling). Responden diwawancarai lewat tatap muka pada jenjang waktu 17-24 September 2017.

Margin error rata-rata survei sebesar kurang lebih 2.9 persen pada tingkat 95 persen dengan asumsi simple random sampling.(yaya)