EKONOMI & BISNIS

Satgas pangan buru penjual beras premium ‘palsu’ penyebab harga medium naik

fokusmedan : Pemerintah memantau harga beras jenis medium merangkak naik sejak sebulan terakhir. Padahal, stok beras melimpah. Hal tersebut menjadi anomali, sebab, seharusnya harga bergerak turun ketika stok melimpah.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menyebutkan anomali tersebut tidak perlu dikhawatirkan mengingat stok beras masih melimpah. “Kami ingin yakinkan publik, pangan aman. Jangan digoreng kesana kemari manti ada anomali hari ini. Kita yakin kenapa? Karena supply cukup bahkan dua kali lipat dari standard lalu stok Bulog juga cukup,” kata Mentan Amran saat melakukan peninjauan pasar di Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (8/11).

Dia menjelaskan, anomali tersebut terjadi sebab stok beras medium oleh pedagang dinaikkan menjadi jenis premium. Namun, dia berharap kondisi ini akan membaik sebab musim panen sudah di depan mata. “Kita panen lagi satu bulan lagi,” ujarnya.

Dia mengatakan satgas pangan akan turun tangan mengatasi anomali harga beras tersebut. “Ada anomali ini kita serahkan ke satgas pangan. Kita imbau supaya jangan mengubah. Karena ada sampel kami ambil di bawa ke lab dikatakan premium tetapi sesungguhnya medium,” tutupnya.

Dalam kesempatan serupa, Kepala Satgas Pangan Polri, Irjen Setyo Wasisto mengamini bahwa terjadinya anomali harga tersebut karena indikasi ada yang mengubah spesifikasi beras dari medium ke premium. “Nah ini menjadi tugas saya sebagai satgas pangan untuk melakukan pengawasan,” ujarnya.

Dia menyatakan satgas pangan akan terjun ke pasar-pasar dan melakukan pengecekan. “Kita akan ngecek di pasaran dan melakukan uji laboratorium juga kepada kualitas beras yang ada di lapangan sehingga beras yang disebut medium sesuai dengan kriteria yang ada dan premium juga sesuai kualitas yang ada sehingga tidak ada lagi menipu masyarakat, jangan kualitas medium dijual premium,” tutupnya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Food Station, Arief Prasetyo Adi membenarkan adanya fenomena aneh tersebut. Kenaikan terjadi dari harga Rp 8.750 menjadi Rp 9.150 per Kg.

“PIBC stoknya 50.000 ton, kemarin 51.000 ton. Artinya lebih tinggi dari sebelumnya. Memang ada fenomena harga beras medium yang agak bergerak naik. Kita mengajukan operasi pasar kepada Pak Budi, Pak Amran dan Mendag,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kondisi tersebut bukan disebabkan masalah produksi. Melainkan beras medium yang cenderung dijadikan beras premium. “Tapi dalam kondisi saat ini memang produksi dari pertanian kita beras cukup dan pasokannya juga normal. Tapi memang beras medium ini cenderung di up ke premium,” tutupnya.

Dikutip dari merdeka.com, harga eceran tertinggai (HET) beras medium di wilayah mengacu pada Permendag nomor 57/M-DAG/PER/8/2017, yaitu Wilayah I: Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, NTB, Sulawesi, dan Bali harga af gudang curah Rp. 8.100,-/Kg dengan HET Rp. 9.450,-/Kg, Wilayah II: Sumatera kecuali Lampung dan Sumatera Selatan, NTT, dan Kalimantan, harga af gudang curah Rp. 8.600,-/Kg dengan HET Rp. 9.950,-/Kg, dan Wilayah III: Maluku dan Papua, harga af gudang curah Rp. 8.900,-/Kg dengan HET Rp. 10.250,-/Kg.(yaya)