Ming. Jul 21st, 2019

Sulitnya Menjalani Hidup Dengan Alergi Sinyal Seluler dan Wifi

fokusmedan :?Zaman sekarang identik dengan ‘tak bisa hidup tanpa smartphone.’ Hal ini sama sekali tak hanya berlaku di anak muda, masyarakat yang dulu tidak mengicipi kecanggihan teknologi pun sekarang juga mulai mencandu pada HP dan segala kemudahannya.

Namun hal ini semua sama sekali tak dirasakan seorang wanita asal Inggris bernama Kim De’Atta. Ia diduga mengalami alergi wifi dan sinyal seluler.

Melansir Tekno Liputan6.com yang mengutip Metro, Jumat (4/1/2019), rupanya Kim memiliki alergi terhadap gelombang elektromagnetik. Gara-gara alerginya tersebut, Kim menderita migrain, kelelahan, bahkan infeksi jika terpapar sinyal telepon maupun WiFi. Akibatnya, ia pun jarang bertemu dengan keluarga dan teman-temannya.

Perempuan yang dulunya bekerja sebagai perawat ini juga harus memakai kelambu untuk melindunginya dari gelombang elektromagnetik saat sesekali meninggalkan rumah. Ia juga hanya bisa mengunjungi tempat yang susah sinyal telepon agar tak terpapar.

Alergi WiFi itu juga memaksanya pindah rumah hingga dua kali, sebab tiang-tiang telepon dibangun di sekitar rumahnya. Saat tidur, Kim juga harus memakai sebuah kelambu khusus.

“Sebagian orang beranggapan bahwa saya gila. Padahal apa yang saya alami sangat sulit, ini karena mereka tak pernah mengalaminya,” tutur Kim.

Ia pun berharap agar orang-orang bisa mengerti keadaan dirinya. Kim mengaku, dia tak pernah bertemu dengan sanak keluarga dan teman-temannya. Karena penyakit itu pula, Kim tak bisa bertemu dengan bibinya yang paling dekat selama 10 tahun.

“Saya tak tahu kenapa, padahal kami dulu sangat dekat. Untuk menemuinya saya harus menggunakan kelambu, saya terlihat sangat konyol di bus. Tapi saya senang, ia masih hidup saat bertemu dengan saya,” ujar Kim.

Kim bercerita, alergi tersebut bermula saat usianya 16 tahun dan hidup di selatan London. Ia mulai terkena alergi saat berada di samping televisi.

“Alergi saya makin parah beberapa tahun setelahnya, saat saya bekerja sebagai perawat di unit intensif dan membeli sebuah ponsel. Ponsel itu sangat diperlukan untuk berkomunikasi saat kondisi darurat,” katanya melanjutkan.

Ia juga menceritakan gejalanya, “Pertama kali menelepon, rasanya seperti laser masuk ke kepala dan otak saya, rasanya sangat sakit.”

Kim akhirnya menyadari, tiap kali berada di dekat smartphone, televisi, WiFi, dan perangkat elektronik dirinya mengalami rasa sakit itu. Kim pun mengaku selalu melarikan diri dari sinyal telepon agar tak mengalami alergi tersebut. Ia pernah pindah ke Glastonbury untuk menghindari sinyal telepon, namun beberapa tahun setelahnya kota tersebut mulai terhubung dengan sinyal telepon dan WiFi.

Hingga saat ini, Kim masih lari dari riuhnya sinyal seluler yang ada di kota. Ia akan seumur hidup berlindung dari gelombang elektromagnetik yang sebenarnya agak mustahil untuk dihindari di kehidupan modern.(yaya)